Orasi Ilmiah Guru Besar IPB: Empat Gagasan Visioner untuk Menjawab Tantangan Pangan, Lingkungan, dan Pembangunan Berkelanjutan
Orasi Ilmiah Guru Besar IPB: Empat Gagasan Visioner untuk Menjawab Tantangan Pangan, Lingkungan, dan Pembangunan Berkelanjutan
Bogor, 27 Juni 2026 — Dewan Guru Besar (DGB) IPB University kembali menyelenggarakan Orasi Ilmiah Guru Besar sebagai forum akademik untuk mendiseminasikan gagasan, inovasi, dan pemikiran strategis para Guru Besar dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional dan global. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (27/6) pukul 08.30–11.00 WIB ini diselenggarakan secara luring dan disiarkan secara daring melalui ipb.link/orasiilmiah-ipb. Acara dibuka oleh Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, kemudian dilanjutkan dengan sidang Orasi Ilmiah yang dipimpin oleh Ketua Dewan Guru Besar IPB, Prof. Dr. Evy Damayanthi. Sebelum para Guru Besar menyampaikan orasinya, riwayat hidup masing-masing orator dibacakan oleh pimpinan fakultas sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan akademik dan kontribusi keilmuan mereka. Orasi ilmiah kali ini menghadirkan empat Guru Besar dari Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, serta Fakultas Kehutanan dan Lingkungan yang mengangkat tema-tema strategis mengenai keberlanjutan perkebunan kelapa sawit, hilirisasi biomolekul hasil samping sumber daya laut, penguatan teknologi reproduksi ikan untuk mendukung akuakultur, serta optimalisasi jasa lingkungan hutan dalam menghadapi krisis global. Beragam topik tersebut mencerminkan komitmen IPB University dalam menghadirkan solusi ilmiah yang terintegrasi bagi pembangunan pertanian, kelautan, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Orasi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Hariyadi, Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian, dengan judul “Nexus Baru dalam Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan.” Dalam orasinya, Prof. Hariyadi menekankan pentingnya paradigma baru dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, serta tata kelola yang baik. Pendekatan nexus yang ditawarkan mendorong sinergi antara produktivitas perkebunan, konservasi sumber daya alam, ketahanan pangan, mitigasi perubahan iklim, dan kesejahteraan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, industri kelapa sawit Indonesia diharapkan mampu memperkuat daya saing global sekaligus menjadi contoh praktik pembangunan perkebunan yang berkelanjutan.

Selanjutnya, Prof. Dr. Wini Trilaksani, Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, menyampaikan orasi berjudul “Transformasi Hasil Samping Blue Food: Hilirisasi Biomolekul Laut Menuju Industri Terstandar dan Ekonomi Biru.” Dalam paparannya, ia menunjukkan besarnya potensi hasil samping perikanan dan kelautan sebagai sumber biomolekul bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk industri pangan, kesehatan, farmasi, kosmetik, dan berbagai produk inovatif lainnya. Transformasi hasil samping tersebut tidak hanya mendukung prinsip ekonomi sirkular dan zero waste, tetapi juga menjadi strategi penting dalam memperkuat hilirisasi industri kelautan nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya laut, serta mendorong terwujudnya ekonomi biru yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Orasi ketiga disampaikan oleh Prof. Dr. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dengan judul “Peran Kontrol Hormonal Reproduksi Ikan dalam Meningkatkan dan Keberlanjutan Produksi Akuakultur.” Dalam orasinya, beliau menjelaskan bahwa penguasaan teknologi pengendalian hormonal reproduksi ikan merupakan salah satu fondasi penting dalam meningkatkan efisiensi produksi benih, menjamin kontinuitas pasokan, memperbaiki produktivitas budidaya, serta mendukung pengembangan akuakultur modern. Inovasi tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan pangan berbasis protein ikan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sistem produksi akuakultur yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Sebagai penutup rangkaian orasi ilmiah, Prof. Dr. Siti Badriyah Rushayati, Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, menyampaikan orasi berjudul “Jasa Lingkungan Hutan sebagai Pilar Pembangunan Berkelanjutan di Tengah Triple Planetary Crisis.” Dalam paparannya, beliau menguraikan bahwa dunia saat ini menghadapi triple planetary crisis yang meliputi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan. Dalam konteks tersebut, hutan memiliki peran strategis melalui penyediaan berbagai jasa lingkungan, seperti penyimpanan karbon, pengaturan tata air, konservasi biodiversitas, hingga penyediaan berbagai manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan hutan yang berkelanjutan harus ditempatkan sebagai salah satu pilar utama dalam mewujudkan pembangunan yang tangguh, rendah emisi, dan berorientasi pada keseimbangan antara kepentingan ekologis, ekonomi, dan sosial. Rangkaian Orasi Ilmiah Guru Besar kali ini kembali memperlihatkan luasnya kontribusi keilmuan Guru Besar IPB University dalam menghasilkan solusi berbasis sains terhadap berbagai tantangan pembangunan nasional. Berbagai gagasan yang disampaikan tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memberikan arah strategis bagi penyusunan kebijakan publik, pengembangan inovasi, serta penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Melalui penyelenggaraan Orasi Ilmiah Guru Besar secara berkelanjutan, Dewan Guru Besar IPB University menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pemikiran-pemikiran akademik yang visioner, mendorong lahirnya inovasi yang berdampak, serta memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dalam mendukung pembangunan Indonesia yang maju, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
